Peran PBB Dalam Memelihara Perdamaian dan Keamanan Internasional

Sejarah Singkat Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Berdirinya Peserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai suatu organisasi internasional, tak pernah lepas daripada pengalaman Perang Dunia, terlebih Perang Dunia ke-2. Menurut sejarah Perang Dunia ke-2 dimulai pada tanggal 1 September 1939 hingga 14 Agustus 1945, tetapi beberapa kalangan berpendapat bahwa dimulainya Perang Dunia ke-2 adalah 1 Maret 1937 ketika Jepang menduduki Manchuria. Dan masih menurut data yang terkait, Perang Dunia ke-2 adalah perang yang paling dahsyat yang pernah terjadi di muka bumi, dengan korban kurang lebih 50.000.000 juta jiwa tewas dalam konflik ini.

Disebut Perang Dunia, karena perang ini berkecamuk di berbagai belahan dunia. Secara acak, peperangan tersebut dimulai pada saat pendudukan Jerman di Polandia pada 1 September 1939, dan berakhir pada 14-15 Agustus 1945 ketika Jepang menyerah telak kepada Amerika Serikat. Yang mana saat itu pesawat B-29 Enola Gay yang dipiloti oleh Paul Tibbets melepaskan satu bom atom yang bernama Little Boy, di Hiroshima. Kemudian menyusul tanggal 9 Agustus 1945, Nagasaki diluluh-lantakan oleh bom atom kedua yang bernama Fat Man, yang dibonceng oleh pesawat B-29 Bock’s car dengan pilot Mayor Charles Sweeney. Dan karena itu semua Jepang menyerah tanpa syarat pada tanggal 14 Agustus 1945, dan menandatangani surat penyerahan pada tanggal 2 September 1945 diatas kapal USS Missouri di teluk Tokyo.

Melihat dahsyatnya Perang dunia ke-2 dan banyaknya korban jiwa dalam perang ini, maka beberapa ahli Hubungan Internasional memikirkan suatu ideologi atau perspektif yang bernama perspektif integrasi. Perspektif inilah yang seringnya menjadi acuan terbentuknya organisasi-organisasi Internasional baik kawasan maupun non-kawasan, seperti Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations (UN).

Sebenarnya titik awal daripada PBB sudah dimulai lama dengan terbentuknya Liga Bangsa-Bangsa (LBB). Liga Bangsa-Bangsa sendiri adalah suatu Organisasi Internasional yang berdiri setelah Paris Peace Conference tahun 1919. Dengan ‘Goal’ atau tujuan: Peniadaan peralatan militer untuk perang; Pencegahan perang melalui keamanan kolektif; Mengatasi ketidaksetujuan atau perdebatan antar negara melalui jalan negosiasi dan diplomasi; dan Meningkatkan kesejahteraan global. Tetapi organisasi ini dianggap ‘mandul’ dalam mencegah agresi yang dilakukan oleh negara Axis Power pada tahun 1930 dimana Perang Dunia ke-2 muncul, dan atas berakhirnya Perang Dunia ke-2 maka muncullah Organisasi Internasional yang serupa yaitu, Perserikatan Bangsa-Bangsa itu sendiri.

Perserikatan Bangsa-Bangsa yang didirikan pada tahun 1945 akhirnya terbentuk setelah ditandatanganinya Piagam PBB atau UN Charter, oleh 51 negara. Dan inilah pengganti Liga Bangsa-Bangsa yang ada pada tahun 1919. Pendiri PBB sendiri adalah negara-negara pemenang Perang Dunia ke-2 yaitu, negara aliansi, Allied Powers. Harapan negara-negara pendiri tersebut adalah untuk mencegah pecahnya Perang Dunia, seperti Perang Dunia ke-2, yaitu Perang Dunia ke-3.

PBB sendiri memiliki dewan yang dinamakan Dewan Keamanan PBB, adalah lima negara anggota yang memiliki keanggotaan tetap karena warisan kemenangan Perang Dunia ke-2, dan salah satu akomodasi yang menjanjikan yang mereka miliki adalah hak prerogatif yang dinamakan hak Veto. Hak ini adalah hak untuk menolak maupun menerima suatu rancangan kebijakan tertentu. Dan negara-negara yang menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB adalah, Republik Rakyat Tiongkok (menggantikan Republik Rakyat China), Prancis, Russia (menggantikan Uni Soviet), United Kingdom, dan Amerika Serikat.

Saat ini Kofi Annan masih menjabat sebagai Sekretaris Jendral PBB, dan kantor pusat PBB sendiri terletak di New York, Amerika Serikat. Selain itu, PBB juga memiliki kantor pusat yang berkedudukan di Geneva, Switzerland, Eropa.

 

Anggota Tetap Dewan Keamanan, yang membuat tidak aman.

Seperti yang telah diketahui bahwa LBB adalah ‘nenek-moyang’ dari PBB. Dan seperti ‘nenek-moyang’nya Organisasi ini tidak pernah lepas dari kritik dan kontroversi, dan yang terlebih sering disoroti dalam hal tersebut adalah masalah mengenai status Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB. Mereka adalah yang memegang hak Veto, dan seringnya hak tersebut hanya dipakai untuk mendahulukan kepentingan masing-masing negara Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB, tanpa (terkadang) fokus akan suatu ‘arguing’ yang di ‘floor’-kan pada setiap rapat. Dan melihat misi utama PBB adalah untuk menjaga dan mencegah terjadinya Perang Dunia, dan meningkatkan keamanan Internasional. Tetapi nyatanya oleh kedudukan yang begitu tinggi yang dimiliki oleh Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB berikut hak Veto-nya, sering kali menjauhi bahkan cenderung bertolak belakang dengan apa sebenarnya misi dan tujuan utama PBB sebagai suatu Organisasi Internasional yang begitu ‘suci’ misi dan tujuannya.

Tidak perlu sebenarnya muluk-muluk, karena yang dibutuhkan dalam menciptakan perdamaian dunia dan bahkan mencegah terbentuknya Perang Dunia ke-3 (mungkin) adalah rasa toleransi, lapang dada, dan kemanusiawian yang sanagt teramat tinggi, yang mana seharusnya dimiliki masing-masing Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB. Tapi tidak. Kenyataan memang lebih cenderung berbicara terbalik, setidaknya agar yang waras sadar, bagaimana yang buruk itu (sedang disuguhkan) tepat berada didepan mata kita.

Maka daripada itulah beberapa pihak yang mengkritisi permasalahan PBB, salah satunya adalah masalah ketika PBB berhadapan dengan suatu krisis, tiba-tiba saja PBB tidak dapat bertindak tepat dan bijak. Semisal kasus Program Nuklir Iran, oleh karena hak Veto yang dimiliki oleh negara-negara Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB dan seringnya mereka berlaku tidak setuju untuk membendung tindakan preventif yang nyata, demi menjaga kepentingan nasional negara-negara tersebut. Dan salah satu contoh yang baru-baru ini terjadi adalah masalah Israel-Libanon.

Memang, begitu nyamannya ‘filosofi’ yang diemban oleh Dewan Keamanan PBB, yaitu, menciptakan perdamaian dan keamanan setiap bangsa-bangsa. Tetapi seharusnya mereka tahu juga, bahwa semua mereka yang berkepentingan disana adalah menyematkan masing-masing Piagam PBB. Dan piagam itulah yang seharusnya menjadi acuan untuk mencapai apa yang menjadi ‘goal’ atau tujuan utama PBB sebagai suatu Organisasi Internasional, yang berlandaskan perdamaian, keamanan, dan kesejahteraan setiap bangsa-bangsa.

Dewan Keamanan PBB, disini yang dimaksud adalah Anggota Tetap dewan Keamanan PBB, seharusnya mereformasi diri menuju metamorfosis ke arah yang lebih baik. Penggunaan hak Veto seharusnya lebih bijak dan tanpa adanya pengaruh pihak-pihak yang berkepentingan, yang mana sesungguhnya dapat merugikan PBB sendiri sebagai suatu Organisasi Internasional.

Menurut perhitungan para ahli, AS, Inggris, Prancis, Uni Soviet, dan Cina memperoleh jatah kursi tetap di Dewan Keamanan yang merupakan lembaga paling utama di PBB. Kelima negara ini juga memiliki hak untuk memveto setiap keputusan Dewan Keamanan. Hal ini tentu saja sama dengan memberi legitimasi kepada bahasa kekuatan dalam pergaulan internasional. Padahal piagam PBB dengan jelas menyebutkan bahwa semua negara memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk menegakkan dan menjaga perdamaian dan keamanan dunia. Dengan demikian, sejak awal pembentukannya sudah bisa diprediksikan bahwa PBB tidak akan mampu mewujudkan misinya dalam menjaga perdamaian dan keamanan.

 

Amerika Serikat atau Amerika-Sentris

Sudah bukan kabar baru lagi bahwa negara seperti Amerika Serikat adalah negara Superpower atau Adidaya. Rasanya, hampir segala tindakan negara ini menjadi sorotan dan selalu juga menjadi sumber pedoman (atau sekedar pedoman) untuk beberapa negara. Dan yang lebih parah lagi, bilamana tindakan negara ini dianggap benar. Bekerjasama dengan negara ini adalah baik, tapi dibelakang itu semua ke-koboian mereka kental, bahkan dalam kancah politik Internasional, terlebih pengaruhnya dalam segala kebijakan PBB.

Dan kita semua pun tahu bahwa Amerika Serikat adalah salah satu dari sekian Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB, dan itu juga artinya bahwa negara Adidaya ini lebih beradidaya lagi dengan adanya hak Veto ditangannya. Jadi, dia lebih dapat memainkan status quo dengan lebih menarik.

Tapi, sebagai negara yang secara finansial kuat, Amerika adalah negara pendonor dana sukarela terbesar untuk PBB, diluar segala kemungkinan yang aneh, ada satu kemungkinan oleh karena hal tersebutlah PBB sering banyak didahului oleh Amerika Serikat. Mulai dari sikap Amerika yang sering ditunjukkan sebagai Polisi Dunia, dan kearogansiannya yang secara halus tapi terasa kasar.

Maka tidaklah muluk bilamana memang ada Amerika-Sentris dalam kerajaan PBB. Kesan bahwa PBB selalu saja didahului oleh Amerika Serikat, menguatkan segala kecurigaan yang lebih banyak beralasan, bahwa sebenarnya PBB hanyalah Organisasi Boneka yang lebih banyak diakomodir Amerika Serikat untuk menghidupkan keadidayaan yang lebih dari yang mereka miliki saat ini. Semisalkan evolusi genetik, Amerika yang adalah Homo Sapiens ingin segera bermetamorfosis menjadi Homo Sapiens-Superior.

Bisa jadi negara pemenang Perang Dunia ke-2 yang kini menjadi Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB, dengan hak veto yang mereka miliki ingin menandingi Amerika Serikat. Dan oleh karena kesadaran politik yang mungkin dimiliki oleh Amerika sendiri, maka seringnya Amerika bertindak mendahului PBB sebagai wadah yang nyata. Dengan demikian, bisa dan tidak tertutup kemungkinan Perang Dunia ke-3 dapat terwujud. Karena rasa yang tidak aman yang dimiliki Amerika Serikat (terlebih setelah peristiwa 11 September/ nine-eleven) maka dia menggunakan hak Vetonya sebagai senjata pamungkas untuk meraih kepentingan nasionalnya, dan itu semua berpengaruh terhadap negara Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB yang lainnya, yang akhirnya ikut-ikutan menggunakan hak Veto mereka sesuai dengan kepentingan nasionalnya, mungkin saja untuk meraih keadidayaan seperti yang dimiliki Amerika Serikat.

Kerjasama antar negara Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB sah-sah saja ddilakukan, tapi satu hal yang harus diingat adalah status quo yang mereka miliki masing-masing, ketika tidak berlaku lagi ada kemungkinan tergeser dan musnah dari arena. Dan sebagai negara yang sering menjadi sentral negara-negara lain di dunia, Amerika tahu betul akan semua hal tersebut. Maka pada saat Jepang mengajukan diri untuk menjadi Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB, dengan kekuatan Veto yang dimiliki Amerika, Jepang mendapat dukungan bulat dari Amerika. Tetapi China yang juga memiliki hak yang serupa dengan Amerika, malahan menskak-mat keinginan Jepang tersebut, itu salah satu contoh yang nyata.

 

Kesimpulan

PBB sebagai suatu Organisasi Internasional masih belum bisa menjunjung tinggi bahkan memperjuangkan kepentingan keamanan dan perdamaian Internasional. Selama masih adanya negara-negara yang memegang hak Veto, terlebih lagi negara-negara tersebut adalah yang pernah ikut dan terlibat dalam Perang Dunia ke-2, rasanya riskan untuk PBB memperjuangkan misi dan tujuan utamanya, sebab selain hak Veto yang dimiliki adalah posisi negara-negara kuat tersebut dalam Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB, yang notabenenya adalah lembaga tertinggi di PBB itu sendiri.

Untuk masalah perdamaian maupun keamanan Internasional, seharusnya ada tolak ukur yang jelas. Seharusnya ada negara yang lebih bernurani sebagai pemegang hak Veto. Seharusnya ada pemikiran yang lebih ekstrim dari sekedar perspektif integrasi. Karena konsep awal perspektif integrasi adalah integritas negara-negara yang kemudian merujuk kepada terciptanya suatu integritas negara-negara, baik region seperti Uni Eropa dan ASEAN, bahkan yang lebih tinggi seperti PBB. Tapi itu semua, pada kenyataannya sedikit banyak terpengaruh oleh kepentingan-kepentingan tertentu didalamnya, dan status quo bermain lebih kuat. Seperti, jika kalah pasti tergeser.

PBB sebagai Organisasi tingkat dunia yang menyokong perdamaian dan keamanan serta mencegah Perang Dunia kembali bergejolak, sebenarnya masih terlalu muda untuk cita-cita yang demikian. Karena perdamaian dan keamanan adalah esensi yang sulit dicapai. Bayangkan saja 50.000.000 jiwa binasa dalam Perang Dunia ke-2, hanya untuk semua yang telah tercapai kini. Kalau boleh dinilai, disatu sisi PBB kalah, dan disisi lain PBB rasanya seakan tidak ada. Dia butuh reformasi tanpa campur tangan negara-negara dengan kepentingan yang dapat menodai cita-cita dan tujuan utama PBB sebagai ikon perdamaian dan keamanan Internasional.

4 Responses to “Peran PBB Dalam Memelihara Perdamaian dan Keamanan Internasional”

  1. nisa Says:

    negara adidaya adalah negara yang kuat dan yang penuh dengan hak veto kemudian yang penuh berkuasa di dunia

  2. kokokbeluk Says:

    kagak nyambung neng… yg ditanya tugasnya!!!

  3. NataRizqi Says:

    makasih atas infonya

  4. yunie reza abidin Says:

    maici atas infonya :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.