Lidya Pratiwi vs Naek Gonggom Hutagalung

December 3, 2006

Pendahuluan

Kronologis Masalah
Kasus pembunuhan seorang model bernama Naek Gonggom Hutagalung (33), yang disinyalir dilakukan oleh seorang artis sinetron muda yang bernama Lidya Pratiwi (19). Menurut sumber yang sangat aktual dari detik.com yang juga didapatkan langsung dari badan penyidik Polres Jakarta Utara, berikut dalah kronologis peristiwa:
Pada 27 April 2006 sekitar pukul 11.00 WIB tersangka Tony Yusuf (43) merencakan pemerasan pada korban Naek Gonggom Hutagalung di rumah Vince Yusuf (ibu Lidya) di Jalan Kereta Kencana III Sektor XII, BSD, Tangerang. Pemerasan dilakukan karena Tony dikejar bunga pinjaman oleh seorang rentenir.
Dalam perencanaan itu, dibagi tugas. Tersangka Lidya bertugas mencari dan menghubungi korban. Tersangka Vince mengatur perjalanan dan menyiapkan tempat. Tony Yusuf mempersiapkan alat yang akan digunakan sebagai eksekutor dan tersangka Ade Sukardi sebagai tenaga bantuan sekaligus eksekutor.
Pukul 15.00 WIB, Vince, Tony dan Lidya berangkat dari rumah dengan mengendarai Chevrolet Spark milik Lidya menuju Plasa Senayan. Dalam perjalanan itu, mereka menjemput tersangka Ade Sukardi.
Setiba di Plasa Senayan, Lidya turun untuk menghubungi Naek Gonggom Hutagalung. Sedangkan Vince, Tony dan Ade langsung menuju Ancol untuk memesan cottage di Putri Duyung. Tony memesan cottage Tongkol 59 mengunakan identitas palsu atas nama Hasan bin Idris.
Saat itu Tony dilayani petugas cottage bernama Muhammad Zubaidi. Pada pukul 19.00 WIB, Vince, Tony dan Ade, masuk ke kamar yang telah dipesan.
Namun tak lama kemudian Vince keluar, sedangkan Tony dan Ade tetap di dalam kamar untuk menunggu korban Naek datang bersama Lidya. Pada saat Naek datang, korban langsung dipiting lehernya dari belakang dengan tangan kanan oleh Ade Sukardi.
Sedangkan Tony Yusuf menodongkan pisau sangkur ke arah korban sambil berkata, “Jangan bergerak!” Tony lalu menyuruh Naek berlutut. Lalu korban diikat ke belakang dengan tali nilon serta kabel TISS. Korban lalu diangkat ke atas tempat tidur.
Dompet dan ATM korban diambil pelaku sambil menanyakan nomor PIN-nya.
Lidya pura-pura dibentak sambil ditarik keluar cottage. Tak lama kemudian Vince datang menjemput Lidya dengan taksi. Pada saat itu Naek kelihatan curiga terhadap tersangka Lidya bahwa kejadian itu adalah rekayasa.
Pada saat itu pelaku berniat menghabisi Naek, karena kalau korban selamat, akan merusak karier Lidya sebagai artis. Akhirnya Naek dihabisi dengan cara kepala bagian belakangnya ditusuk dengan besi pemecah es sebanyak 2 kali sehingga korban menjerit kesakitan.
Ade Sukardi lalu menjerat leher korban dengan kabel TISS hingga korban tewas. Pada pukul 01.05 WIB, tersangka Tony dan Ade melarikan diri dengan menggunakan mobil Toyota Avanza milik Naek. Mereka kabur lewat Tol Semanggi menuju jalan HOS Cokroaminoto, Jakarta Pusat. Mobil itu lalu ditingalkan di pinggir jalan begitu saja.
Tak lama kemudian Vince dan Lidya menjemput Tony dan Ade lalu diantar ke Hotel Mega Proklamasi untuk menginap. Tony lalu diberi Rp 5 juta hasil menguras ATM milik Naek. Lantas Vince dan Lidya pulang ke rumahnya di BSD.
Akhirnya pada 11 Mei 2006, para tersangka berhasil ditangkap di rumahnya masing-masing pukul 5 pagi tanpa perlawanan. Mereka dibawa ke Polres Jakarta Utara untuk penyelidikan.
Sementara, saat itu, keluarga curiga karena Naek kok tidak kunjung pulang. Ponselnya dikontak juga tidak aktif. Keluarga patut curiga sebab Naek tidak memiliki kebiasaan pulang larut malam tanpa pamit.
Keluarga lantas lapor ke polisi. Polisi berjanji menelusuri dan menyarankan agar keluarga Naek mampir ke RSCM. Ketika keluarga ke RSCM, ternyata benar ada jenazah Naek di situ.
Polres Jakarta Utara akhirnya menetapkan sejumlah tersangka yaitu Vince Yusuf, Tony Yusuf, Ade Sukardi, dan Lidya Pratiwi. Menurut badan penyidik Polres Jakarta Utara setelah menjalani studi kasus di TKP di Putri Duyung cottage Tongkol 59, Tony Yusuf yang juga diketahui sebagai paman daripada Lidya Pratiwi cenderung memberikan keterangan yang berlawanan dengan keterangan yang dipaparkan oleh Lidya Pratiwi sendiri. Hal ini menimbulkan kecurigaan bagi pihak Kepolisian Jakarta Utara, pasalnya bukan sekali saja Tony Yusuf memberikan keterangan yang berbeda. Pada awal penangkapan dia mengakui bahwa dia terlibat pemebunuhan terencana tersebut, tetapi setelah menjalani olah TKP, pernyataan Tony Yusuf berubah 180 derajat menjadi lebih memberatkan dan menyudutkan Lidya Pratiwi.
Dilain pihak menurut data dari detik.com, Kepolisian Jakarta Utara dalam kasus ini tidak menutup kemungkinan bahwa akan ada tersangka baru, berkaitan dengan pembunuhan terencana terhadap Naek Gonggom Hutagalung.
“Kemungkinan selalu ada,” kata Kasat Reskrim Polres Jakarta Utara Kompol Andri Wibowo pada detikcom, Minggu (15/5/2006).
Seperti kronologis kejadian yang telah dituliskan sebelumnya, bahwa Tony Yusuf paman Lidya ketika menyewa kamar di Putri Duyung cottage tersangka menyewa dengan identitas palsu, atas nama Hasan bin Idris. Pada saat diwawancarai oleh tim detik.com, Kompol Andri Wibowo menunjukkan KTP yang bertuliskan nama Hasan bin Idris tersebut.
“KTP milik siapa itu, kita dalami. Kalau orang tersebut terbukti terlibat atau membantu meminjamkan KTP-nya, maka bukan mustahil bisa dijadikan tersangka, meskipun dia tidak terlibat secara langsung,” kata Andri.
Sementara itu, keluarga besar Naek Gonggom Hutagalung dalam keadaan berang dan syok berat, cenderung menyerang dan mengusik Lidya Pratiwi. Entah karena notabene Lidya sebagai artis muda yang sedang naik daun, atau mungkin karena keluarga Naek Gonggom Hutagalung tahu maupun pura-pura menutupi sehingga pura-pura tidak tahu bahwa korban memiliki hubungan sebagai kekasih. Keberangan mereka terlihat mulai dari olah TKP hingga pada saat keluarga besar Naek Gonggom Hutagalung menghadiri sidang yang baru saja digelar beberapa minggu yang lalu.
Pada situasi tersebut terlihat bahwa Ida Hutagalung yang ditanyai oleh hakim kemudian ditanyai lagi oleh pengacara Lidya Pratiwi, dalam ruang lingkup pertanyaan yang serupa dan dengan intensitas yang lebih oleh pengacara Lidya dan membuat Ida Hutagalung, kakak kandung Naek Gonggom Hutagalung, marah besar disusul dengan keluarga besar Naek Gonggom Hutagalung yang melempar sandal kearah pengacara Lidya Pratiwi dan sejumlah makian-makian lainnya. Akibatnya sidang ditunda, hakim keluar dari ruang sidang tanpa mengetukkan palu sidang, sementara Lidya mendapatkan aniaya fisik dan kemudian diamankan.
Kasus ini memang terbilang cukup berat, karena ini adalah pembunuhan berencana dan ancaman maksimal bagi para pelaku adalah hukuman mati. Tetapi karena Indonesia adalah negara hukum, maka mengusahakan keringanan atau atau bahkan bebas daripada tuntutan adalah sah-sah saja, selama masih dijalur hukum siapapun berhak mencari keadilan.

Bermula Dari Utang
Uang memang menggelapkan mata, segala sesuatu demi sepeser rupiah pun akan dilakoni. Terlepas daripada cara-cara mendapatkan peser demi peser, tetapi ketika dalam mengusahakan sepeser rupiah tersebut pasti ada harga yang dibayar.
Dalam peristiwa yang mengenaskan yang terjadi pada Naek Gonggom Hutagalung, akar mula masalah adalah utang yang membelit Tony Yusuf oleh seorang rentenir. Seperti pada umumnya, meminjam dengan seorang rentenir adalah juga mengembalikan beserta dengan bunga-bunganya.
Berdasarkan kronologis peristiwa yang didapatkan dari pihak Kepolisian Jakarta Utara, Tony Yusuf merencanakan pemerasan kepada Naek Gonggom Hutagalung di rumah Vince Yusuf (Ibu Lidya Pratiwi), dikarenakan oleh utang kepada rentenir. Dan juga karena Naek Gonggom Hutagalung menaruh hati pada Lidya, walaupun hal ini selalu disangkal oleh keluarga besar Naek Gonggom Hutagalung tetap saja ini adalah kebenarannya. Lagi-lagi menurut detik.com pada halaman ‘Sebelum Pembunuhan, Lidya Pernah Pinjam Uang ke Naek’, disitu jelas lidya memaparkan pengakuan bahwa dia tidak mengira Naek yang menaruh hati padanya akan diperas dan dihabisi oleh keluarganya sendiri.
Sementara masih dalam halaman yang serupa di detik.com, paman Lidya, Tony Yusuf memaparkan pernyataan yang berlawanan. Tony Yusuf mengaku bahwa dia tidak bermaksud membunuh Naek. Dia hanya ingin menguasai harta Naek. Dia nekat menghabisi korban karena gusar korban mengetahui kongkalikong kejahatan tersebut melibatkan Lidya, keponakannya yang karier model dan sinetronnya tengah menanjak.
Entah apa yang ada dibenak masing-masing tersangka, tetapi jelas dari setiap pernyataan, kronologis kejadian, olah TKP, dan barang bukti, maupun kemarahan besar daripada pihak keluarga Naek Gonggom Hutagalung menuntut masyarakat untuk lebih selektif dalam berpikir, terutama berpikir dengan logika yang lurus. Terlebih-lebih dalam menemukan keadilan untuk kebenaran.

Isi

Kebenaran Suatu Kronologi 1
Kronologi kasus pembunuhan terhadap Naek menurut penyidik Polres Jakarta Utara sudah cukup jelas dirasa. Pasalnya kronologi kasus tercipta bukan hanya dari olah TKP yang sudah ada, tetapi juga dengan sumber-sumber kesaksian baik dari pada para saksimata dan juga para tersangka serta barang bukti dalam kasus. “Pada 27 April 2006 sekitar pukul 11.00 WIB tersangka Tony Yusuf (43) merencakan pemerasan pada korban Naek Gonggom Hutagalung di rumah Vince Yusuf (ibu Lidya) di Jalan Kereta Kencana III Sektor XII, BSD, Tangerang.” Artinya, otak dari pemerasan tersebut adalah Tony Yusuf sendiri, dan juga itu berarti awal mula rencana adalah sekedar memeras. Hal tersebut dipertegas dengan kenyataan, bahwa Tony Yusuf dikejar bunga pinjaman oleh seorang rentenir.
Kemudian, “Dalam perencanaan itu, dibagi tugas. Tersangka Lidya bertugas mencari dan menghubungi korban. Tersangka Vince mengatur perjalanan dan menyiapkan tempat. Tony Yusuf mempersiapkan alat yang akan digunakan sebagai eksekutor dan tersangka Ade Sukardi sebagai tenaga bantuan sekaligus eksekutor.”
Lidya, tentunya sangat kenal baik dengan korban, ini jelas dipaparkan oleh Ida Hutagalung kepada redaksi detik.com: Sebelum pembunuhan Naek Gonggom Hutagalung (33), artis Lidya Pratiwi pernah meminjam uang kepada Naek. Uang itu digunakan untuk pengobatan kakak Lidya yang sakit. “Saya tidak tahu besarnya, Naek ceritanya kepada Claudia (adik Naek),” kata Ida Hutagalung, Kakak Naek, kepada detikcom, Selasa (16/5/2006). Timbul pertanyaan beradasarkan fakta tersebut, apakah Lidya benar-benar bertugas mencari dan menghubungi korban? Ataukah Lidya pada saat kejadian memang mempunyai janji untuk bertemu dengan korban, dan itu adalah sepengetahuan daripada Tony dan Vince Yusuf, yang mana notabenenya Tony Yusuf adalah otak kejahatan sesungguhnya dan oleh karena mereka mengetahui Lidya akan bertemu dengan Naek pada saat itu maka timbul rencana jahat dikepala Tony Yusuf yang juga didukung oleh Vince Yusuf?
Sebab perlu diingat, sebelumnya Lidya pernah meminjam uang kepada Naek untuk biaya pengobatan kakaknya. Maka tidak tertutup kemungkinan juga, bila Tony Yusuf, paman Lidya, sudah mengetahui bahwa Naek sangatlah kaya dan itu membuka peluang besar bahwa rencana pemerasan yang berujung kepada pembunuhan tersebut sudah lama bersarang dikepala Tony, hanya saja dia baru menelurkannya pada 27 April 2006 sekitar pukul 11.00 WIB. Dan juga tentang Vince Yusuf yang kami duga mendukung sepenuhnya tindakan keji tersebut, mengapa? Karena Vince Yusuf memeiliki kecenderungan memenafaatkan situasi anaknya demi suatu keuntungan secara berlebihan.
Masih berkaitan dengan hal tersebut, Polisi menduga hal serupa dan lagi-lagi kami petik dari detik.com: Polisi juga mencurigai ibu Lidya, Vince Yusuf, telah memanfaatkan anaknya. “Saya melihat berdasarkan informasi yang diperoleh kalau ibu Lidya (Vince) memanfaatkan anaknya secara berlebihan,” ujar Kasat Reskrim Polres Jakarta Utara Kompol Andri Wibowo pada detikcom, Minggu (15/5/2006). Maksudnya dijual? “Ya seperti itulah. Soalnya berdasarkan informasi yang kita peroleh dari SMS telepon Lidya dan ibunya ada percakapan yang mengarah ke sana. Tapi kita belum mendapatkan fakta hukumnya, baru sekadar informasi SMS,” beber Andri. Apa alasan ibu Lidya menjual anaknya, apakah terlibat sesuatu dengan Naek? “Tidak, tidak ada kasus sebelumnya antara keluarga Lidya dan Naek. Mungkin ini hanya keinginan si ibu yang ingin mendapatkan kekayaan dengan cara jalan pintas. Karena menjalani hidup cukup berat mereka jadi rela menjual anak gadisnya yang cantik untuk mendapatkan uang,” urai Andri.
Jadi, bilamana demikian ada pula kemungkinan besar bahwa Lidya memang memiliki janji untuk bertemu dengan Naek pada saat pembunuhan terjadi, berdasarkan setingan rencana oleh Tony dan juga Vince Yusuf. Dan ada pula kemungkinan besar lainnya bahwa, Lidya secara tidak sengaja ada dan kebetulan terkait dengan lingkaran permainan keluarganya. Dengan atau tanpa tujuan dan maksud-maksud tertentu. Kami akan mencoba mengungkapkannya stetelah beberapa penyamaan kronologi kasus kemudian.
Nah, dalam kronologi kasus berikutnya, “Pukul 15.00 WIB, Vince, Tony dan Lidya berangkat dari rumah dengan mengendarai Chevrolet Spark milik Lidya menuju Plasa Senayan.” Ini masih terkait dengan kronologi kasus yang berikutnya lagi, kita anggap saja kronologi kasus ini sebagai bagian ‘A’, dan yang berikutnya adalah bagian ‘B’: “Dalam perjalanan itu, mereka menjemput tersangka Ade Sukardi. Setiba di Plasa Senayan, Lidya turun untuk menghubungi Naek Gonggom Hutagalung. Sedangkan Vince, Tony dan Ade langsung menuju Ancol untuk memesan cottage di Putri Duyung.”
Pada bagian A Lidya menuju Plasa Senayan, untuk kemudian bertemu dengan korban, jika memang Lidya yang bertugas menjadi penghubung si korban dengan Tony, Vince, dan Sukardi. Dan berkaitan pertanyaan sebelumnya, apakah Lidya memang sudah punya janji sebelumnya untuk bertemu dengan korban? Jika memang benar demikian adanya, maka Lidya kemungkinan besar tidak terkait dengan kasus pembunuhan terhadap Naek Gonggom Hutagalung. Sebab, hal tersebut adalah situasi yang tidak diinginkan (unintended situation). Masih berkaitan dengan Tony sebagai otak atau dalang dan Vince sebagai pendukung penuh, maka peran daripada dalang adalah memastikan semua wayangnya atau bonekanya untuk bergerak sesuai keinginannya, dan keinginan Tony untuk menggerakkan Lidya agar bertemu dan membawa si korban kepadanya adalah benar-benar terjadi. Maka tak ayal, terciptalah opini publik bahwa karena Lidya maka pembunuhan itu terjadi.
Sementara disisi lain pada bagian B, mereka menjemput tersangka lainnya yaitu Ade Sukardi lalu dengan Tony dan Vince mereka bertiga menyewa cottage di Putri Duyung cottage. Sementara itu Lidya menghubungi korban untuk bertemu dengannya di Plasa Senayan. Menghubungi korban dalam hal ini, berkaitan dengan pertanyaan apakah sebelumnya si korban dan Lidya telah memiliki janji untuk bertemu, kemungkinannya adalah untuk memastikan pertemuan itu terselenggara sedemikian rupa. Untungnya terselenggara, tetapi ini bukan masalah ‘untungnya’, sebab memang terjadi dan artinya perjanjian untuk bertemu tersebut sudah pasti.
Hal-hal tersebut kemungkinan besar telah diketahui oleh Tony Yusuf terlebih-lebih oleh Vince Yusuf sebagai ibu daripada Lidya Pratiwi sendiri. Semua itu berdasarkan motif Tony Yusuf yang ingin melunasi bunga utang dari seorang rentenir, sementara Vince Yusuf ingin menguasai harta dengan jalan pintas, mengingat bahwa Vince sendiri memiliki kecenderungan dalam memanfaatkan Lidya secara kebablasan. Dilain itu Sukardi yang haya seorang satpam, kemungkinan tergiur dengan jumlah yang akan didapatkannya setelah menyelesaikan misi pemerasan yang berakhir kepada pembunuhan tersebut. Dan Lidya, apakah motifnya? Satu hal yang diketahui bahwa Naek menaruh perasaan terhadap Lidya dan nyatanya mereka memiliki suatu hubungan yang cukup baik, dan baik Tony maupun Vince sendiri kemungkinan besar memanfaatkan keadaan tersebut dengan bermain dibelakang Lidya Pratiwi.

Kebenaran Suatu Kronologi 2
Sudah sangat pasti bahwa Naek Gonggom Hutagalung dan keluarganya sangatlah dirugikan dengan kenyataan ini. Dan hilanganya nyawa Naek tak lepas dari hadirnya keempat tersangka pembunuhan terhadapnya: Lidya Pratiwi, Tony Yusuf, Vince Yusuf, dan Ade Sukardi.
Pada kronologi kasus, terutama saat kejadian pembunuhan tersebut berlangsung, pada bagian: “Pada pukul 19.00 WIB, Vince, Tony dan Ade, masuk ke kamar yang telah dipesan. Namun tak lama kemudian Vince keluar, sedangkan Tony dan Ade tetap di dalam kamar untuk menunggu korban Naek datang bersama Lidya. Pada saat Naek datang, korban langsung dipiting lehernya dari belakang dengan tangan kanan oleh Ade Sukardi. Sedangkan Tony Yusuf menodongkan pisau sangkur ke arah korban sambil berkata, “Jangan bergerak!” Tony lalu menyuruh Naek berlutut. Lalu korban diikat ke belakang dengan tali nilon serta kabel TISS. Korban lalu diangkat ke atas tempat tidur. Dompet dan ATM korban diambil pelaku sambil menanyakan nomor PIN-nya. Lidya pura-pura dibentak sambil ditarik keluar cottage. Tak lama kemudian Vince datang menjemput Lidya dengan taksi.” Disitu jelas dipaparkan bahwa Lidya pura-pura dibentak dan ditarik keluar dari cottage, kemudian Vince menyusul Lidya dengan Taksi, pertanyaannya: Kemanakah Chevrolet Spark milik Lidya? Mengapa harus dijemput dengan taksi?
Kemungkinannya Chevrolet diletakan di Plasa Senayan, atau mungkin Chevrolet digunakan Tony, Vince, dan Ade untuk pergi memesan cottage di Putri Duyung cottage. Sebab Lidya datang dengan Naek bersama-sama, dan saat itu Naek membawa mobilnya menuju cottage yang dimaksud, saat itu Naek mengendarai Toyota Avanza. Ini jelas keanehan, sebab dalam berita kronologi kasus pembunuhan Naek Chevrolet milik Lidya hanya disebutkan pada saat para tersangka menuju Plasa Senayan dan menjemput Ade Sukardi, dan jejak Chevrolet milik Lidya kemudian hilang begitu saja. Sedangkan pada saat Naek tiba dan kendaarannya ditemukan, Avanza tersebut terus dimasukan dalam berita kronologi yang didapatkan dari penyidik Kepolisian Jakarta Utara yang kami kutip dari detik.com.
Adakah ini suatu permainan? Sebab, Chevrolet Sparks milik Lidya tersebut berada dalam posisi sebagai barang bukti, walaupun Chevrolet tersebut adalah benda mati, bukti adalah saksi bisu, dan saksi posisinya bisa memberatkan dan juga meringankan, terutama dalam kasus pemerasan yang berujung kepada pembunuhan berencana ini.
Dan bila demikian adanya, mengapa Vince membawa kabur Lidya dari TKP dengan taksi? Memang pada akhirnya Tony dan Ade menggunakan mobil Avanza milik Naek untuk kabur, yang kemudian oleh Polisi mobil tersebut ditemukan dipinggir jalan dalam keadaan tidak ada pengemudi. Mereka membawa mobil Avanza tersebut untuk kabur melalui jalan tol Semanggi menuju jalan HOS Cokroaminoto, Jakarta Pusat. Ini sangat aneh, berarti bila jejak Chevrolet hilang begitu saja, dalam artian tidak ada di area TKP yaitu Putri Duyung cottage, berarti kendaraan yang ada di TKP adalah Avanza milik Naek dan taksi yang digunakan Vince untuk membawa kabur Lidya. Kembali lagi untuk dipertanyakan, Chevrolet Sparks milik Lidya yang disebut-sebut pada awalnya dalam kronologi kasus pembunuhan tersebut mengapa posisinya menjadi kabur dalam kronologi kasus pembunuhan Naek?
Apa ini suatu usaha untuk merekayasa situasi agar Lidya menjadi terlibat dalam kasus pembunuhan tersebut seutuhnya? Mungkin saja hal tersebut benar.
Dalam kronologi tersebut disebutkan juga bahwa: “Lidya pura-pura dibentak sambil ditarik keluar cottage. Tak lama kemudian Vince datang menjemput Lidya dengan taksi. Pada saat itu Naek kelihatan curiga terhadap tersangka Lidya bahwa kejadian itu adalah rekayasa.” Dalam bagian ketika Naek dan Lidya datang ke cottage hingga Lidya pura-pura dimarahi, disitu haya ada Tony dan Ade, sebab pukul 19.00 WIB Vince meninggalkan Tony dan Ade berdua dari kamar yang telah dipesan, sedangkan mereka berdua tetap menunggu hingga Naek dan Lidya datang ke TKP. Kemanakah Vince? Apakah dia mengunakan kesempatan tersebut untuk mencari taksi yang dimaksud? Dan apakah Lidya benar-benar pura-pura dimarahi? Ada kemungkinan bahwa Lidya kaget dengan apa yang dia lihat, bahwa Tony dan Ade menyekap dan mengancam Naek dengan pisau sangkur dan Lidya dibentak untuk disuruh pergi, atau bahasa kronologi kasus tersebut “pura-pura dimarahi”.
Lalu pada kondisi berikutnya, Naek terlihat curiga terhadap Lidya bahwa semua kejadian yang sedikit banyak disaksikan oleh Lidya adalah rekayasa. Tetapi Lidya tidak dapat berbuat banyak untuk menolong Naek, karena otak pembunuhan adalah Tony yang nyata-nyata sudah sangat kepepet dengan urusan utang, sementara Ade Sukardi menodongkan pisaunya, dan terlebih-lebih Lidya adalah perempuan satu-satunya di TKP. Hingga Vince datang menjemput Lidya dari cottage dan masuk ke taksi.
Dan hasilnya, baik Lidya maupun Vince kabur dari TKP sebelum pembunuhan terjadi. Sebab menurut kronologi kasus, pembunuhan terjadi cenderung setelah Lidya dan Vince pergi meninggalkan TKP. “Pada saat itu Naek kelihatan curiga terhadap tersangka Lidya bahwa kejadian itu adalah rekayasa. Pada saat itu pelaku berniat menghabisi Naek, karena kalau korban selamat, akan merusak karier Lidya sebagai artis. Akhirnya Naek dihabisi dengan cara kepala bagian belakangnya ditusuk dengan besi pemecah es sebanyak 2 kali sehingga korban menjerit kesakitan. Ade Sukardi lalu menjerat leher korban dengan kabel TISS hingga korban tewas. Pada pukul 01.05 WIB, tersangka Tony dan Ade melarikan diri dengan menggunakan mobil Toyota Avanza milik Naek. Mereka kabur lewat Tol Semanggi menuju jalan HOS Cokroaminoto, Jakarta Pusat. Mobil itu lalu ditingalkan di pinggir jalan begitu saja.”
Nah, pada bagian pembunuhan terhadap Naek tersebut, Tony sebagai pelaku memang sudah berniat untuk menghabisi nyawa Naek. Hal tersebut didorong oleh alasannya dalam kronologi kasus, bilamana Naek dibiarkan selamat takut akan merusak karier Lidya sebagai artis. Hal senada juga dia lontarkan pada pihak pneyidik Kepolisian Jakarta Utara yang diliput oleh detik.com: Di tengah penganiayaan, Naek mencium bahwa Lidya terlibat dalam perampokan itu. Hal ini membuat Tony gusar. Takut nama beken keponakannya tercemar, dia pun mencabut pisau dan menancapkannya ke badan Naek. Naek pun tewas. Dan: Dalam pengakuannya, Tony Yusuf mengaku bahwa dia tidak bermaksud membunuh Naek. Dia hanya ingin menguasai harta Naek. Dia nekat menghabisi korban karena gusar korban mengetahui kongkalikong kejahatan tersebut melibatkan Lidya, keponakannya yang karier model dan sinetronnya tengah menanjak.
Ini jelas sangat aneh, masih ada rasa sayang Tony sebagai paman daripada Lidya. Contoh rasa sayang Tony terhadap Lidya adalah dengan membunuh Naek, yang dia pikir bila Naek dibiarkan selamat begitu saja malah akan merusak reputasi dan karier Lidya sebagai artis, karena dia berpikir Lidya ikut kongkalikong dalam kejahatan tersebut.
Jika ingin diluruskan, maka timbul pertanyaan: Apakah Tony sebagai paman daripada Lidya Pratiwi lupa atau tidak ingat atau tidak mau tahu dengan posisi Lidya sebagai artis yang kariernya sedang menanjak? Dan juga apakah situasi kasih sayang seorang paman terhadap keponakannya dapat digambarkan dengan melibatkan keponakannya dalam suatu kasus pembunuhan yang dia rancang sendiri?
Alasan Tony jelas tidak bisa dibenarkan. Masakah Tony tidak tahu Lidya adalah seorang artis dan dia baru tahu Lidya seorang artis ketika timbul hasrat untuk menghabisi nyawa Naek? Haruskah rasa sayang orang tua adalah dengan melibatkan anaknya dalam rancangan pembunuhan yang dia rancang sendiri? Tidak masuk akal sama sekali.
Alasan Tony tersebut jelas untuk menyelamatkan diri sendiri dari ancaman hukuman seumur hidup dan atau hukuman mati, yang memiliki pasal-pasal berlapis: Siang itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Albert P mendakwa Lidya dan seorang terdakwa lainnya, Muhammad Sukardi, dengan pasal berlapis, yang ancamannya adalah hukuman mati.
”Terdakwa didakwa dengan pasal berlapis, yaitu Pasal 340 jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 a KUHP tentang pembunuhan berencana, dengan ancaman pidana hukuman mati atau seumur hidup,” papar Albert.
Terdakwa juga didakwa dengan dakwaan sekunder, yaitu Pasal 339 jo Pasal 56 ke 1, Pasal 338 jo Pasal 55 ayat 1 jo Pasal 56 kesatu KUHP dan Pasal 365 ayat 2. ”Kedua terdakwa, baik secara bersama-sama maupun bertindak sendiri-sendiri, dengan Toni Yusuf dan Vince Yusuf pada 28 April 2006 pukul 00.30 di Putri Duyung Cottage melakukan kejahatan dengan sengaja dan direncanakan lebih dahulu untuk menghilangkan nyawa orang lain,” tambahnya.
Pada kesempatan lain, Lidya berbicara dengan tabloid Nova, beberapa paparannya mengatakan bahwa Tony lah yang meminta pada Lidya untuk dipertemukan dengan koraban, Naek.
Meski dijadikan tersangka, Lidya merasa tak terlibat dalam rencana pembunuhan itu. Sejak awal, menurutnya, ia hanya berniat baik mengenalkan Naek pada Tony, pamannya. Tony yang sedang kesulitan keuangan. “Om Tony perlu uang. Katanya, ia akan pinjam uang pada Naek,” ujar gadis kelahiran 14 Januari 1987. Begitulah, hari itu Kamis (27/4), Tony minta dipertemukan dengan Naek. Lidya mengaku bertemu Naek di sebuah mal di Jakarta Selatan. Dari situ, mereka meluncur ke cottage Putri Duyung, Ancol. “Om Tony menunggu di sana. Kata Om Tony, saya diminta jalan-jalan dulu sama Naek. Setelah itu, barulah mengajaknya ke cottage,” kata dara manis yang kini didampingi pengacara Hotman Paris Hutapea, SH ini. Lidya mengaku terkejut ketika sampai di kamar didorong Tony. “Saya gemetaran, tidak tahu apa yang sedang terjadi. Rencana saya, kan, hanya mengenalkan Naek pada Om Tony. Makanya sejak awal pikiran saya lurus-lurus saja,” aku Lidya yang saat itu berniat keluar lagi, tapi dibentak Tony. Pintu kamar langsung dikunci.
Pemaparan ini kurang lebihnya berkaitan dengan konstruksi kronologi kasus. Tetapi yang perlu digarisbawahi, bahwa Tony adalah sebagai otak daripada kasus ini, menurut KUHP pasal 340 yang diterjemahkan oleh Kasat Reskrim Polres Jakarta Utara Kompol Andri Wibowo: 1 detik berpikir untuk membunuh itu kategorinya pembunuhan berencana. Berarti, sebagai sutradara dan aktor, layaklah Tony Yusuf dikategorikan sebagai aktor utama pembunuhan Naek Gonggom Hutagalung. Pasalnya, Tony tidak hanya sebagai otak, tetapi dia terlibat langsung sebagai pemeras, eksekutor, hingga menguras habis tabungan milik Naek. Dan menjadi semakin aneh ketika tersangka Tony Yusuf harus menyampaikan pernyataan yang berbeda-beda dengan tersangka-tersangka lainnya, terlebih Lidya Pratiwi. Dan untuk ukuran seorang paman yang mengasihi keponakannya, Tony bukanlah orangnya.
Dan dari semua keterangan yang didapat, ternyata jumlah uang yang dikuras oleh komplotan Lidya Pratiwi adalah 40 juta Rupiah, bukan 5 juta rupiah seperti yang dibutuhkan Tony. Tony mengakui pada wartawan yang juga diliput oleh redaksi detik.com: “Uang jarahan itu salah satunya dipakainya untuk membeli handphone (HP) dan membayar utang. Pengakuan Tony ini disampaikan pada wartawan di Mapolres Jakarta Utara, Selasa (16/5/2006)
Setelah itu Tony kabur ke kawasan Menteng. Dia kabur dengan membawa identitas Naek. Pada 29 April, Tony mengambil uang lagi dari ATM Naek senilai Rp. 5 juta tambah RP. 3 juta untuk beli HP. “Tapi Hpnya sekarang sudah saya jual,” katanya. Tanggal 30 April, Tony kembali menguras rekening Naek Rp. 4 juta. “Totalnya saya ambil Rp. 20 jutaanlah dari saldo itu. Saya juga gunakan uang itu bayar utang ke rentenir Rp. 10 jutaan,” ceritanya.”

Keluarga Naek Gonggom Hutagalung 1
Pada kesempatan lain, keluarga Lidya meminta maaf atas terjadinya kasus yang sadis tersebut, yang telah merenggut nyawa Naek, kepada keluarga besar Hutagalung terutama keluarga Naek Gonggom Hutagalung. Tetapi mau bagaimana, ini adalah kasus pembunuhan dan telah memakan korban yaitu Naek, dan sudah pasti keluarga Naek tidak dapat menerima begitu saja.
“Ini masalah nyawa yang hilang, kalau cuma harta mungkin kami masih bisa rela karena uang masih bisa dicari,” kata Ida Hutagalung, kakak Naek ketika dihubungi detikcom, Selasa (16/5/2006).
Apa yang diungkapakan Ida Hutagalung kepada redaksi detik.com memang masuk nurani. Tetapi masih dapat diragukan perkataannya, pasalnya apa yang diungkapkan Ida adalah dibawah pengaruh emosi. Dan memang pada penyidangan pertama kasus pembunuhan Naek, emosi besar dari keluarga Hutagalung sangat jelas terlihat. Sebenarnya bukan hanya disidang pertama itu saja emosi keluarga Hutagalung menyeruak kepermukaan, pada saat reka ulang peristiwa di TKP para tersangka ramai-ramai di kejar oleh keluarga Hutagalung, maupun ketika dikantor Polisi.
Senin (15/5/2006) keluarga Naek Gonggom Hutagalung diperiksa polisi di Mapolres Jakarta Utara, Jalan Yos Sudarso, terkait kasus pembunuhan anggota keluarganya itu. Tak dinyana, di ruang sebelah, polisi juga tengah memeriksa para tersangka yaitu Lidya Pratiwi (19). Tak ayal, ketika Lidya keluar ruangan, bertepatan dengan keluarnya keluarga Naek, terjadilah insiden.
“Woi! Woii! Mana orangnya! Mana!” kejar Claudia Hutagalung , adik Naek, berusaha mengejar Lidya dengan penuh emosi. Namun sejumlah wartawan yang berada di situ menahan laju Claudia. ak lama kemudian munculah seorang pria, juga masih saudara Naek. “Sudah saya tendang orangnya,” celutuk pria tersebut.
Memang benar, Naek Gonggom sudah tiada dan semua yang ada tidak bisa menggantikan kehadirannya. Dan memang berat sekali ketika salah satu dari anggota keluarga meninggal karena dibunuh, ada emosi yang tak terkendali ketika harus berhadapan dengan pelaku pembunuhan. Tetapi memang keluarga Naek Gonggom juga terlalu berlebihan dalam melampiaskan setiap emosi dan kekesalannya. Terhitung dalam setiap kesempatan selalu saja melakukan tindakan yang diluar dugaan. Apalagi ketika pengadilan pertama digelar, Kakak Naek, Ida Hutagalung melampiaskan kekesalannya ketika ditanya oleh tim pengacara Lidya Pratiwi hingga pada saat Lidya Pratiwi pun ingin diamankan petugas dia masih menyempatkan diri melakukan sedikit tindakan aniaya terhadap Lidya Pratiwi. Belum lagi salah satu anggota keluarga Naek Gonggom Hutagalung melempari sandal kearah tim pengacara Lidya, dan Claudia Hutagalung, adik Naek pun tak ketinggalan memberikan bermacam-macam umpatan. Hasilnya, hakim persidangan kasus pembunuhan Naek Gonggom Hutagalung keluar dari ruang sidang tanpa mengetuk palu.
Seharusnya mereka lebih bisa mengendalikan diri, hitung-hitung sebagai nilai lebih yang akan memperlancar jalannya persidangan dan tuntutan mereka. Jika demikian adanya maka keluarga Hutagalung, terutama mereka-mereka yang tidak dapat mengendalikan emosi dan lebih sering melakukan tindakan main hakim sendri, layak pula mendapatkan ganjaran hukum. Sebab, mereka mempercayakan kasus ini hingga maju kepengadilan demi mendapatkan jalan yang terbaik, dengan demikian mereka harusnya menghormati setiap komponen-komponen dalam kasus, bukan dengan cara-cara yang tidak terhomat. Walaupun pada akhir persidangan, saat kemudian Ida Hutagalung diwawancarai oleh berbagai media infotainment, dia menyampaikan kata maaf. Jika mencari keadilan dan menyamaratakan, Lidya Pratiwi dan keluarga yang meminta maaf kepada keluarga Naek dan telah dimaafkan, hanya saja proses hukum terus berlanjut, maka demikian juga halnya dengan tindakan semena-mena keluarga Hutagalung terhadap persidangan dan menganiaya komponen-komponen tersangka.

Keluarga Naek Gonggom Hutagalung 2
Semakin memanasnya kasus pembunuhan yang melibatkan Lidya Pratiwi ini bukan hanya panas disekitar keluarga Lidya Pratiwi versus keluarga Naek Gonggom Hutagalung, tetapi juga diantara para pengacara kedua belah pihak, baik itu Hotman Paris Hutapea yang mewakili Lidya Pratiwi dan juga Hotma Sitompul yang mewakili keluarga Hutagalung.
Versus ini mulai hangat ketika Hotman Paris Hutapea, diluar persidangan dengan tegas menantang Hotma Sitompul untuk berdebat: “Hanya karena berada dikubu yang berbeda, dalam kasus pembunuhan Naek L Gonggom, dimana Lidya Pratiwi menjadi salah satu tersangkanya. Dua pria berdarah Batak ini pun berseteru hingga di luar persidangan. Bahkan, tanpa tedeng aling-aling, Hotman Paris menantang Hotma untuk berdebat. Menurut Hotman Paris Hutapea, ia tidak takut dan bersedia menantang Hotma Sitompul untuk berdebat..”Saya yakin bahwa 99% tidak ada pembunuhan terencana,” kata Hotman Tegas. Sebaliknya, ia tidak mau berdebat dengan Hotman Paris dan ia menyarankan jangan berkoar-koar di luar pengadilan, ungkap Hotma sitompul singkat.”
Tetapi dari sejumlah data yang didapat, memang pada kasus “debat’ yang ditawarkan oleh Hotman Paris Hutapea adalah sepenuhnya kesalahannya sebagai seorang advokasi. Indikasi ini dapat dilihat dari apa yang telah dikutip dari portal GoBatak.
“Jakarta – Kalangan Orang Batak atau Halak Hita menanggapi perseteruan yang terjadi antara pengacara berdarah Batak, Hotma Sitompul dan Hotman Paris Hutapea. GoBatak – Dikatakan, pertikaian tersebut tidak perlu terjadi, karena masing-masing telah mempunyai nama. Menurut penilaian Ferry Firman dan Ruhut Sitompul, perbuatan Hotman Paris sangat melanggar etika kerja pengacara, terlebih bagi Ferry Firman. Dijelaskan Ferry, selain ribut dengan Hotma Sitompul, Hotman Paris juga bermasalah dengan dirinya, dalam kasus Lidya Pratiwi. Seharusnya, Ferry Firman lah yang menangani kasus ini, namun entah kenapa, Hotman Paris malah menawarkan diri pada Lidya, dengan embel-embel tanpa bayaran, alias gratis. “Ini tindakan tidak terpuji,” kata Ferry Firman singkat. Hal senada dikatakan Ruhut Sitompul. Menurut Ruhut, jangan menjadi pahlawan kesiangan. Bahkan dengan tegas Ruhut mengatakan, tindakan Hotman Paris tersebut, seharusnya dikenai sanksi hukum, oleh dewan kehormatan Peradi atau Perhimpunan Advokat Indonesia, karena telah melanggar etika pengacara. “Dewan kehormatan Peradi hendaknya mengadili dia, mungkin diskors dulu..karena kita malu sama penampilan dia,” kata Ruhut singkat, demikianlah informasi yang diperoleh dari http://www.indonesiaselebriti.com.”
Memang ini sangat memalukan. Dilain pihak tindakan Hotman Paris Hutapea adalah untuk membela Lidya Pratiwi tetapi disisi lain dengan tindakannya yang melanggar etika-etika tertentu dapat menyebabkan berkurangnya beberapa poin-poin penting yang dapat berakibat buruk bagi kliennya. Sedangkan bagi keluarga Hutagalung serasa ada kemarahan pada level tinggi yang tidak dapat dibendung. Dilain kasus mereka menyerahkan masalah pembunuhan Naek Gonggom Hutagalung kepada pengadilan, tetapi diluar pengadilan atau pada saat-saat tertentu justru mereka menginginkan “sapurata” kepada Lidya Pratiwi, Vince Yusuf, Tony Yusuf, dan Ade Sukardi dengan cara dihukum mati tanpa pertimbangan apapun. Bahkan tidak mungkin kepada kakak kandung Lidya yang sama sekali tidak terkait apapun dalam pembunuhan tersebut.
“Kakak Lidya merasa tertekan, jadi saya sarankan dia untuk pergi untuk sementara,” kata Rizki, Ketua RT tempat Lidya tinggal, ketika ditemui detikcom di rumahnya di kawasan Jl Kereta Kencana III Sektor XII, BSD, Tangerang, Minggu (14/5/2006).” Masih dalam halaman portal yang serupa, menurut Rizki kakak Lidya pernah mengeluh bahwa ada seseorang yang yang naik keatas loteng rumahnya pada malam hari, terutama pada saat kasus tersebut ramai. Hal inilah yang membuat kakak kandung Lidya merasatidak betah dan tidak aman, sehingga memutuskan untuk pindah tanpa memberitahukan sedikitpun tentang identitas yang dimilikinya berikut identitas tempat tinggal barunya.
Rasa was-was kakak Lidya boleh juga dijadikan sumber spekulasi baru, apakah benar ada utusan-utusan tertentu untuk menghantui keluarga Lidya Pratiwi khususnya diluar daripada kasus ini. Bisa jadi demikian adanya, oleh karena kemarahan yang menjadi dendam sehingga hukuman mati pun rasanya belum pantas untuk para tersangka, bisa jadi ini praktek genocide level keluarga.

Penutup

Kesimpulan
Memang bila mengenai suatu kasus yang bernama “pembunuhan” terlebih yang terbunuh adalah keluarga sendiri tentunya akan mengguncang perasaan kejiwaan yang mendalam. Seperti yang dialami oleh keluarga Hutagalung, kemarahan akan kenyataan bahwa Naek Gonggom terbunuh menghasilkan dendam kepada tersangka. Semua ini dapat terlihat dari adanya tindak anarkis disetiap pertemuan hukum kedua belah pihak.
Dan hal ini juga adalah hal yang paling memalukan terutama bagi suku Batak. Pasalnya dua pengacara kondang yang duduk berlawanan dalam kasus ini bukan hanya salaing membela para kliennya, tetapi juga saling menyatakan sikap-sikap tertentu yang memalukan suku Batak.
Keluarga Hutagalung juga terlalu over-reacted, dengan melempari sandal kearah pengacara tersangka dan mengahsilkan kericuhan diruang sidang. Ini seharusnya ditindak secara hukum. Karena sifat yang mereka lakukan didalam ruang persidangan adalah tindak kejahatan yaitu penghinaan terhadap badan/peraturan perundangan negara. Penghinaan, karena pihak keluarga Hutagalung melemparkan sandal kepada salah seorang wakil hukum, salah satu tim pengacara tersangka hingga akhirnya Hakim persidangan keluar dari ruang persidangan tanpa mengetuk palu kehakiman.
Sedangkan Tony Yusuf sebagai seorang tersangka, otak utama, dan juga salah pelaku pembunuhan yang nyata di TKP. Tony sangatlah tidak konsisten sebagai seorang tersangka baik ketika dimintai keterangan sampai olah TKP hingga berjalannya sidang, pernyataannya selalu berbelit-belit dan berbeda setiap episodenya. Sedangkan Lidya Pratiwi tetap bersikukuh dia terjebak dalam kasus ini, dia sama sekali tidak terlibat dalam perencanaan bahkan hingga proses pembunuhan berlangsung, dan itu dibenarkan oleh ibunya sendiri Vince Yusuf. Entah karena naluri seorang ibu, tetapi ini adalah salah satu poin penyelamat bagi Lidya. Dan anehnya pada persidangan kedua yang mengahdirkan Tony Yusuf, pernyataan terbaru Tony keluar kembali dia memojokkan Lidya, keponakannya tersayang. Dan ini mendapat dukungan besar oleh keluarga hutagalung yang katanya, berpendapat serupa dengan apa yang dikemukakan Tony. Aneh, adakah mereka bersekongkol untuk memojokkan Lidya?
Hanya satu hal yang pasti, dalam persidangan ini yang dicari adalah keadilan. Baik keadilan untuk pihak tersangka maupun korban. Sebab jika menilik kepada apa yang diutarakan Prof. Mr R. Kranenburg sebagai asas keseimbangan: Pembagian keuntungan dan kerugian dalam hal tidak ditetapkan terlebih dahulu dasar-dasarnya, ialah bahwa tiap-tiap anggota masyarakat hukum sederajat dan sama.
Dan jika memang keluarga Hutagalung telah menyerahkan sepenuhnya kepada pengadilan, dan membiarkan pengadilan atau hukum yang berbicara, maka biarkanlah keadilan yang menyampaikan kebenaran. Sebab jika yang dicari adalah kebenaran, maka nama pengadilan akan berubah menjadi pembenaran.

Just a note: Ini adalah tugas kelompok yang gue kerjakan bareng teman-teman di mata kuliah Dasar-dasar Logika.

Read the rest of this entry »